Copyright © artikel sederhana
Design by Dzignine
Jumat, 07 Desember 2012

Makalah Teori Belajar Kontruktivisme Piaget

 
PENDAHULUAN
            Latar Belakang
Teori belajar konstruktivisme mulai berkembang pada abad 19. Teori tersebut merupakan suatu teori yang lebih mementingkan proses dari pada hasil. Proses pembelajaran tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, tetapi lebih banyak melibatkan proses berfikir. Menurut teori ini ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah tetapi melalui proses yang berkesinambungan dan menyeluruh.
Melalui proses yang bermakna maka seorang anak akan tumbuh menjadi seorang individu yang lebih sempurna. Sama juga dalam hal belajar, penanaman proses lebih penting bila dibandingkan dengan penekanan hasil. Dengan proses yang bermakna maka akan dapat menghasilkan keluaran yang baik.
Diantara para penemu belajar konstruktivisme yaitu Piaget. Beliau adalah seorang psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan serta perubahan umum yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Proses berfikir merupakan aktivitas gradual fungsi intelektual dari konkret ke abstrak. Selain hal tersebut Piaget juga menyelidiki masalah mengenai adaptasi manusia serta perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori-teori dari Piaget yang dapat diterapkan dalam pendidikan.
            Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yang akan dibahas adalah:
1.      Asumsi –asumsi dasar Piaget
2.      Tahap perkembangan Kognitif
3.      Implikasi teori Piaget dalam Pendidikan
4.      Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis
C.                 Tujuan Penulisan
1.      Asumsi –asumsi dasar Piaget
2.      Tahap perkembangan Kognitif
3.      Implikasi teori Piaget dalam Pendidikan
4.      Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis

PEMBAHASAN
Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget (pakar psikologi dari Swiss) melihat konstruksi individulah yang utama (konstruktivisme individu). Piaget menjelaskan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia. Ia juga menjelaskan bagaimana tiap individu mengembangkan schema, yaitu suatu sistem organisasi aksi atau pola pikir yang membuat kita secara mental mencerminkan "berpikir mengenainya". Dua proses diaplikasikan dalam hal ini yaitu asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi individu berusaha menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada (schema). Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu  menyesuaikan diri dengan informasi baru.
Seseorang melakukan adaptasi dalam situasi yang makin kompleks ini dengan menggunakan schema yang masih bisa dianggap layak (asimilasi) atau dengan melakukan perubahan dan menambahkan pada schema-nya sesuatu yang baru karena memang diperlukan (akomodasi). Misalnya ada seorang anak 7 tahun dihadapkan dengan palu dan paku untuk memasang gambar di dinding. Ia mengetahui dari pengamatan bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang dan diayunkan untuk memukul paku. Dengan mengenal kedua benda ini, ia menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran yang sudah ada (asimilasi). Akan tetapi karena palu terlalu berat dan ia mengayunkannya dengan keras maka paku tersebut bengkok, sehingga ia kemudian mengatur tekanan pukulannya. Penyesuaian kemampuan untuk sedikit mengubah konsep disebut akomodasi.
Piaget memakai istilah “scheme” secar interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang. Sceme berhubungan dengan :
a.         Reflex-refleks pembawaan missal bernafas, makan, minum.
b.     Scheme mental misalnya scheme of classification, scheme of operation (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap dan pola tingkah laku yang dapat diamati).
Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu:
a.          Struktur, disebut dengan scheme.
b.         Isi, disebut dengan content, yaitu pola tingkah laku spesifik ketika individu menghadapi sesuatu masalah.
c.          Fungsi, disebut juga function, yang berhubungan dengan cara seorang mencapai kemajuan intelektual.
Fungsi terdiri dari dua macam fungsi invariant yaitu:
1.    Organisasi; berupa kecakapan seseorang/organism dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentuk system-sistem yang koheren.
2.    Adaptasi: yaitu adaptasi individu terhadap lingkungan yang terdiri dari 2 macam proses yang saling komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi.
Hal yang paling mendasar dari penemuan Piaget ini adalah belajar pada siswa tidak harus terjadi hanya karena seorang guru mengajarkan sesuatu padanya, Piaget percaya bahwa belajar terjadi karena siswa memang mengkonstruksi pengetahuan secara aktif darinya, dan ini diperkuat bila siswa mempunyai kontrol dan pilihan tentang hal yang dipelajari. Pengajaran oleh guru yang mengajak siswa untuk bereksplorasi, melakukan manipulasi, baik dalam bentuk fisik atau secara simbolik, bertanya dan mencari jawaban, membandingkan jawaban dari siswa lain akan lebih membantu siswa dalam belajar dan memahami sesuatu.
Asumsi-asumsi dasar Piaget
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa. Diantaranya:
1.    Anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi.
Anak-anak adalah subjek yang secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut. Anak akan terus bereksperimen dengan objek-objek yang mereka jumpai, memanipulasinya dan mengamati dampak dari tindakan mereka.
2.    Anak-anak mengonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang mereka pelajari menjadi suatu koleksi fakta-fakta yang melekat pada diri mereka. Tetapi mereka juaa menggabungkan penglaman-pengalaman mereka menjadi suatu pandangan terintegrasi mengenai cara kerja dunia di sekitar mereka. Piaget mengemukakan bahwa anak-anak mengonstruksi keyakinan dan pemahaman mereka berdasarkan pengalaman yang mereka alami.
3.    Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi yaitu asimilasi dan akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif terjadi sebagai hasi dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi melibatkan respons terhadap obje atau peristiwa sesuai dengan scema (pengetahuan) yang sudah ada. Ada kalanya anak-anak memodifikasi schema yang sudah ada atau membentuk rancangan yang benar-benar baru sehingga sesuai dengan objek atau peristiwa baru (akomodasi). Anak akan mendapatkan manfaat pengalaman-pengalaman baru jika mereka mampu menghubungkan pengalaman tersebut dengan pengetahuan dan keyakinan yang mereka miliki.
4.    Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan social adalah factor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif.
Eksperimen yang dilakukan anak secara aktif terhadap dunia fisik merupakan elemen vital bagi pertumbuhan kognitif. Dengan mengeksplorasi dan memanipulasi objek-objek fisik mereka akan mempelajari karakteristik objek-objek tersebut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berbasis penemuan (discovery learning) menjadi suatu aspek penting dalam proses belajar mengajar.
5.    Proses ekuilibrasi endorong kemajuan ke arah kemampuan berfikir yang makin kompleks.
Piaget mengemukakan anak-anak seringkali berada dalam kondisi ekuilibrium dimana mereka mampu menafsirkan dan merespon peristiwa baru dengan schema yang sudah ada.
Seiring tumbuh dan berkembang, kadang mereka menjumpai situasi dimana pengetahuan suatu keterampilan mereka tidak memadai. Situasi ini menimbulkan disekuibilirum yaitu sejenis ketidaknyamanan mental yang mendorong anak berusaha memahami hal-ahal yang sedang mereka observasi. Dengan mengubah atau menngorganisasi objek atau schema yang ada, pada akhirnya mereka mampu memahami peristiwa yang membingungkan itu. Proses dari ekuibilirum ke disekuibilirum kembali ke ekuibilirum ini disebut ekuilibrasi.
6.    Sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan otak, anak-anak berfikir dengan cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget berspekulasi bahwa otak memang berubah secara signifikan dan perubahan tersebut memungkinkan terjadinya proses berfikir yang semakin kompleks.
Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu
(1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki,
(2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti,
(3) strategi siswa lebih bernilai, dan
(4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut:
(1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri,
(2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif,
(3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru,
(4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa,
(5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan
(6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Selain itu Slavin menyebutkan strategi-strategi belajar pada teori kontruktivisme adalah top-down processing( siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhkan, cooperative learning(strategi yang digunakan untuk proses belajar, agar siswa lebih mudah dalam menghadapi problem yang dihadapi dan generative learning(strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.
Tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan;
(1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama,
(2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan
(3)   gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Tahap-tahap perkembangan kognitif
 Piaget  mengidentifikasi emat factor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu:
       - Kematangan
       - Pengalaman fisik/lingkungan
       - Transmisi social
       -  Ekuibilirum (self regulation)
Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:
     1. Tahap sensorimotor (kelahiran hingga usia 2 tahun)
Piaget mengemukakan bahwa dalam sebagian besar tahap sensorimotor, anak-anak berfokus pada apa yang mereka lihat dan lakukan saat itu. Skema –skema mereka tersusun berdasarkan perilaku dan persepsi.  Ia juga menyatakan bahwa kemampuan berfikir yang sesungguhnya muncul pada usia dua setengah tahun. Secara spesifik, anak memperolah kemampuan berfikir simbolik (symbolic thought) yaitu kemampuan merepresentasikan dan memikirkan objek-objek dan peristiwa-peristiwa dalam kerangka entitas mental internal atau symbol.
      2. Tahap Praoprasional (usia 2 tahun hingga 6 atau 7 tahun)
Pada masa awal tahap praoperasional konkret, keterampilan bahasa anak akan berkembang pesat dan penguasaan kosakata yang meningkat memungkinkan mereka mengekspersikan dan memikirkan beragam objek dan peristiwa. Bahasa juga menjadi dasar bagi bentuk interkasi social yang baru yaitu komunikasi verbal. Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada ha-hal yang dapat dijumpai atau dilihat di dalam lingkungannya saja. Pada saat mendekati akhir tahap praoperaional, anak mulai menunjukkan tanda-tanda awal pemikiran logis yang menyerupai pemikiran orang dewasa tapi belum selogis orang dewasa tapi anak sudah muali mengenal symbol atau nama.
Dalam hubungan ini, Philips (1969) membagi atas:
a.       Concreteness
b.      Irreversibility
c.       Centering (tampak adanya egocentrisme)
d.      States vs transformation dan
e.       Transductive reasoning. 
      3. Tahap Operasional Konkret (usia 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun)
Saat anak memasuki tahap oprasional konkret, proses berfikir mereka menjadi terorganisasi ke system proses mental yang lebih besar yang memudahkan mereka berfikir lebih logis aripada sebelumnya. Anak telah dapat menetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal abstrak. Kecakapan kognitif anak:
a.       Combinativity classification
b.      Reversibility
c.       Associativity
d.      Identity
e.       Serializing.
Anak mulai kurang egocentrisme-nya dan lebih sosiocentris (anak mulai membentuk peer group).
     4 . Tahap operasional Formal (usia 11 atau 12 tahun hingga dewasa)
Anak dan remaja yang berada dalam tahap ini dapat memikirkan dan membayangkan konsep-konsep yang tidak berhubungan dengan realitas konkret. Mereka juga mengenali kesimpulan yang logis sekalipun kesimpulan tersebut berbeda dari kenyataan di dunia sehari-hari. Anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks. Flanell (1963) memberikan cirri-ciri berikut:
a.       Pada pemikiran anak remaja adalah hypothetico-deductive.
Remaja dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problema dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat, tetapi anak kecil belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya diterima atai ditolak.
b.      Periode propositional thinking
Remaja telah dapat memberikan statement atau proposisi berdasar pada data yang konkret. Tetapi kadang-kadangia berhadapan dengan proposisi yang bertentangan dengan fakta.
c.       Periode combinatorial thinking
Bila remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan masalah, ia telah dapat memisahkan factor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasi factor-faktor itu.
Implikasi Teori  Piaget
Para pendidik memandang bahwa teori Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt (1964) mempraktekkan di dalam program pendidikan TK yang menekankan ada perkembangan sensori motoris dan praoperasional, Poel (1964) di dalam program pendidikan Science dan Adler (1966) di dalam mengajar berhitung.
Yang penting guru harus mengerti alam pikiran anak dan tradisinya dari tingkat-tingkat perkembangan intelektual tersebut, missal diutarakan Korplus (1964) bahwa anak TK akan lain dengan anak lulusan SD. Hubungan antara tingkat perkembangan konseptual dengan bahan pelajaran yangn kompleks menunjukkan bahwa guru harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Situasi belajar yang ideal ialah keserasian antara bahan pengajaran yang kompleks dengan tingkat perkembangan konseptual anak.
Salah satu  yang penting adalah kematangan anak untuk belajar. Gagne memberikan suatu alternative pemecahannya dengan menunjukkan perbedaan antara kematangan perkembangan dengan keterampilan intelektual yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Kalau anak tidak dapat menyelesaikan suatu tugas, mungkin karena anak itu belum memiliki keterampilan subordinat yang berhubungna dengan tugas itu. Anak akan dapat mempelajari tugas apa saja kalau ia sudah memiliki keterampilan intelektual yang menjadi pre-reqiusit.  
Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis
Berdasarkan hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari, dan juga penerapan konsep.
3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif,
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.
DAFTAR PUSTAKA
Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Wahab, Rochmad. 1999. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. DEPDIKNAS
Dalyono. 2009. Psokologi pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Uno, Hamzah. 2010. Orientasi Baru dalam Psokologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ormrod, Jeanne. 2008. Edisi Ke 6 Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga

0 komentar:

Poskan Komentar

Semangat untuk Belajar dan Terus Berdoa

Semangat untuk Belajar dan Terus Berdoa