Copyright © artikel sederhana
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Education Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education Article. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Januari 2013

Mathematic Learning With Game Method Using Theory Cognitive Learning And Approach Problems Solving


CHAPTER I
INTRODUCTION


A.    Problem Background
Mathematics is formed as a result of human thought associated with the ideas, processes, and reasoning (Ruseffendi ET, 1980: 148). Mathematics is viewed by most teachers as well as students or subjects difficult to learn or teach. Difficult to study because many less encouraging results for each student after following the process of learning or completing a test or exam math. The results of students' mathematics learning is always lower than the results of student learning in other subjects. Teachers teach difficulties due to various efforts from planning, implementation and evaluation carried out do not work as expected.



Jumat, 21 Desember 2012

Pembelajaran dengan pendekatan problem solving



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu kegiatan pendidikan adalah menyelenggarakan proses belajar mengajar. Winkel (dalam Darsono dkk, 2000) mengungkapkan pengertian belajar sebagai suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Belajar dapat membawa perubahan dan perubahan itu pada pokoknya adalah diperoleh kecakapan baru melalui suatu usaha. Para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran perlu adanya suasana yang terbuka, akrab dan saling menghargai. Sebaliknya perlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kebosanan (Dasim Budimansyah,2002). Hal tersebut bisa tercapai apabila sang pendidik memakai jalan pembelajaran dengan pendekatan problem solving.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian pembelajaran dengan problem solving?
2. Apa saja perangkat pembelajaran Problem solving?
3. Bagaimanakah bentuk-bentuk pembelajaran problem solving?
4. apa saja kelebihan dan kekurangan pembelajaran  problem solving?
5. Bagaimanakah pendekatan pemecahan masalah?

C. Tujuan pembahasan Masalah
1. Dapat mengetahui pengertian pembelajaran dengan problem solving
2. Untuk Mengenal perangkat pembelajaran Problem solving
3. Untuk memahami bentuk-bentuk pembelajaran problem solving
4. Dapat  Mengetahu kelebihan dan kekurangan pembelajaran problem solving
5. Untuk mengetahui pendekatan pemecahan masalah.


BAB II
Pembahasan
2.1. Pengertian dasar problem solving Agar kita sukses menerapkan pembelajaran dengan problem solving maka langkah pertama yang harus  lakukan ialah memahami makna problem solving solving terselebih dahulu. Barangkali secara umum orang memahami masalah sebagai kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Namun dalam matematika, istilah problem memiliki makna yang lebih khusu. Yakni istilah “problem” terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu problem solving ( pemecahan masalah) yang digunakan intuk pendekatan dalam proses pembelajaran . Dan menurut Hunsaker Pemecahan masalah ( problem solving ) didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidak sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil hasil yang diinginkan                                                                                                                         Sementara menurut Mu’Qodin mengatakan bahwa problem solving adalah merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang dicapai dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat..                                                                                                  Berdasarkan dari beberapa definisi problem solving yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran. Terkait dengan pengertian problem solving tadi bila dikaitkan dengan pembelajaran maka mempunyai pengertian sebagai proses pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, dimana  problem yang harus diselesaikan tersebut bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik dan ada kalanya fakta nyata yang ada dilingkungan kemudian dipecahkan dalam pembelajaran dikelas, Dengan berbagai cara dan teknik.


2.2. Perangkat Pembelajaran Problem Solving
Untuk menerapkan pembelajaran problem solving diperlukan beberapa perangkat terutama
A. Software,  yang mengaitkan metode, Setiap pembelajaan seorang guru tidak dilepaskan dari peranan metode, akan tetapi tak semua metode yang guru pakai dapat menghasilkan output yang baik, Dan guru mengajar dengan metode dapat menemukan dan  membimbing anak ke arah pemecahan masalah  tapi tak semua metode bisa digunakan sebagi proses problem solving paling tidak metode tersebut  mempunyai nilai-nilai Sebagai berikut:
·         Keaktifan terhadap peserta didik
karena  keaktifan siswa dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengexplorasi pengetahuannya untuk memecahkan masalah serta membangun konsep-konsep yang akan dipelajarinya. Keseluruhan pengalaman belajar ini akan memberikan ketrampilan kepada siswa bagaimana sesungguhnya belajar yang dapat menjadi bekal untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Dan memecahkan masalah dalam proses pembelajaran.
·         Kreativitas
Dengan kekreatisan seorang siswa baik individual maupun kelompok dituntut untuk menghasilkan penemuan-penemuan sebagai manifestasi dari pemecahan masalah, orang-orang yang kreatif masih saja belum banyak jumlahnya Konon hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak banyak menghasilkan paten atau temuan. Mandulnya bangsa Indonesia dalam menghasilkan temuan-temuan baru tentu saja menjadi kendala untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain didunia. Oleh karenanya penting bagi siswa untuk semenjak dini menghasilkan kreasi-kreasi atau belajar mengkreasi sesuatu. Kelak ketika mereka dewasa kreativitas ini diharapkan dapat menjadi terobosan dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan diantaranya adalah menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Konon banyaknya sarjana yang menjadi antrean pencari kerja disebabkan karena semenjak kecil mereka tidak terbiasa menciptakan sesuatu. Kebiasaan belajar dengan menghapalkan dan meniru tidak banyak bermanfaat dalam kehidupan.
Berkreativitasnya  siswa dapat menghantarkan daya pikir kritis dalam memecahkan masalah dan tentunya setiap metode harus didukung oleh fasilitas tertentu yang dapat mengarah kepada tercapainya tujuan.
Diantara  yang paling bermasalah ialah Metode ceramah meruapakan metode klasik yang hanya menggunakan lisan dalam menyampaikan materi, yang dampaknya murid menjadi pasif, tidak gairah dan daya pikir siswa statis. Maka dari itu metode ceramah sangat tidak relevan untuk digunanakan dalam pembelajaran problem soving, memang setiap metode pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari metode ceramah akan tetapi metode  ceramah hanya sebagai fasilitas daya dukung aja dari pada metode yang diterapkan guru dalam pembelajaran.

B. Hardware
Untuk perangkat yang kedua ialah hardware yang terkait  dengan teknik pembelajaran, sebelum kita memahami hardware pembelajaran kita harus paham dengan pengertian teknik pembelajaran, teknik pembelajaran ialah jalan, alat, atau media yang diguanakan oleh guru dalam rangka mendidik muridnya guna mencapai tujuan pembelajaran ( Garlach dan Ely, 1980 )
Aplikasi atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran mempersyaratkan minimal tersedianya hal-hal berikut: a) dukungan teknologi atau infrastruktur, b) penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan content, c) kesiapan Siswa pengguna atau user. Sementara itu pemecahan masalah belajar secara empirik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi, dan prosedur (Purwanto, 2005:17­18).
Aplikasi atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran dengan cara: 1) memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang ekonomi, manajemen, psikologi, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem; 2) memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya; 3) menggunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar; 4) timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah (Miarso, 2007:78).
Penerapan Teknologi Pendidikan  Dapat diterapkan dalam Pembelajaran Computer Assisted Learning (CAL)
Teknik ini digunakan untuk kegiatan belajar yang berstruktur, dimana computer    Diprogramkan untuk permasalahan-permasalahan (sistem Pakar). Siswa diminta untuk  Meme cahkan masalah tersebut atau mencari jawaban dengan mempergunakan  komputer dan seketika itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik. Dalam  beberapa detik siswa sudah mendapat jawaban atau umpan balik jawaban tersebut. CAL  memberikan siswa untuk maju sesuai dengan kecepatan masing-masing mereka.Metode ini dapat dipergunakan pada setiap tingkat pengetahuan dari yang sederhana sampai pada yang paling kom pleks.
2.3 Bentuk Problem Solving
Ada beberapa bentuk dalam problem solving menurut Chang, D’Zurilla dan Sanna (2004), yaitu                                                          a) Rational Problem Solving
Sebuah bentuk pembelajaran problem solving yang konstruktif yang didefinisikan seperti rasional, berunding dan aplikasi yang sistematik dalam kemampuan menyelesaikan masalah. Model ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu :                                                  1) Identifikasi Masalah
Problem solver mencoba mengelompokkan dan mengerti masalah yang dihadapi  dengan mengumpulkan banyak spesifikasi dan fakta konkrit tentang kemungkinan masalah, mengidentifikasi permintaan, rintangan dan tujuan yang realistik dalam menyelesaikan masalah.
2) Mencari Solusi Alternatif
Fokus pada tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba untuk mengidentifikasi banyak solusi yang memungkinkan termasuk yang konvensional.                3) Mengambil Keputusan                                                                          Problem solving  mengantisipasi terhadap keputusannya dalam solusi yang berbeda, mempertimbangkan, membandingkan dan kemudian memilih yang terbaik atau solusi yang efektif yang paling berpotensial.                                                                                4) Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian                                                Seseorang harus berhati-hati dalam menerima dan mengevaluasi solusi yang menjadi pilihan setelah mencoba untuk melaksanakan solusi tersebut kedalam situasi masalah dalam kehidupan nyata
2.4. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran  Problem Solving.
Salah satu tujuan pembelajaran ialah untuk menciptakan prodak siswa yang tidak hanya memiliki keahlian koqnitif  dan afektif saja melainkan seorang siswa juga dituntut untuk cakap dalam mengembangkan psikomotorik, tujuan tersebut tidak dari proses untuk memecahkan masalah, dan didalam memecahkan masalah tersebut haruslah menghadirkan metode. Dan metode yang tepat ialah metode problem solving, salah satu metode metode yang menekankan untuk berpikir krisis dan kreatif guna mencapai tujuan, tapi metode tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan Pembelajaran Problem Solving
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan pembelajaran  problem solving
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan Pembelajaran  ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain
3. Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
4. Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .

2.5. Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving Approach)
Ada   5 langkah,   yakni :
1.Problem  Identification
Ketika kita menemukan sebuah masalah. Baik itu masalah teknis atau kehidupan sehari-hari karena pada umunya semua masalah memiliki kronologis jalan keluar yang hamper sama. Sebagai contohnya karena saya akan menghadapi UTS tanggal 28 besok dan belum benar-benar siap, serta diperparah sekarang bulan puasa maka ini bisa dijadikan contoh masalah.
2.Synthesis
Sebuah gagasan awal secara keseluruhan untuk memecahkan masalah. Langkah selanjutnya masalah di atas adalah saya harus berusaha lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dan tidak menganut sistem belajar kebut semalam.
3.Analysis
Kalau di buku Holtzapple Reece dijelaskan bahwa pada langkah ini kuncinya adalah mengubah masalah fisika menjadi model matematikanya. Karena saya sudah terlanjur memberi contoh masalah kehidupan nyata maka jika ditinjau dari langkah ini maka saya harus menentukan langkah riil step by step, misalnya belajar terorganisasi atau berurutan dan         berkelanjutan.
4.Application
Langkah application di sini kita melaksanakan semua gagasan dan langkah-langkah yang kitarencanakansebelumnya.
5.Comprehension
Di langkah ini kita menggunakan teori yang sudah ada. Untuk kasus yang telah saya contohkan teori yang ada adalah mitos kalau belajar sebelum tidur itu baik dan jauh lebih baik belajar pada saat shubuh atau fajar. Di jelaskan dalam buku Misteri Shalat Shubuh bahwa banyak keajaiban atau mukjizat yang terjadi kala fajar.

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
1. problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran. Terkait dengan pengertian problem solving tadi bila dikaitkan dengan pembelajaran maka mempunyai pengertian sebagai proses pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, dimana  problem yang harus diselesaikan tersebut bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik dan ada kalanya fakta nyata yang ada dilingkungan kemudian dipecahkan dalam pembelajaran dikelas, Dengan berbagai cara dan teknik.
2. Perangkat dalam pembelajaran problem solving ialah berupa software yang berupa metode tapi tak semua metode bisa dipakai dalam pembelajaran problem solving paling tidak metode tersebut mempunyai nilai-nilai keaktifan dan kretivitas bagi siswa. dan yang perangkat problem solving ialah hardware yang berupa tenik pembelajaran.
3. Bentuk Problem Solving ialah Rational Problem Solving dengan cara Identifikasi Masalah,  Mencari Solusi Alternatif. Mengambil Keputusan, Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian.
4. Pembelajaran problem solving ada kelebihannya dan kekurangannya diantaranya.
Kelebihan problem solving
·         Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
·         Berpikir dan bertindak kreatif.
Kekurangannya
·         Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
·         Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .

5. Pendekatan Pemecahan masalah ada lima langkah yaitu, Problem Identification, Syinthesis, Analysis, Application, Comprehension

DAFTAR PUSTAKA
1. Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Efektif dan Efisien, Jakarta, Bumi Aksara, 2008.
2. Harun Nasution, Teknologi pendidikan, , Jakarta, Bumi Aksara,2010.
3.      Miarso, Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta, Pustekkom-Diknas, 2007.
  1. Online http://anicahyadi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html,  25  Nov 2010.
  2. R. Ibrahim & Nana Syaodih S, Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1996.
  3. Purwanto, et.al.. Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan diIndonesia. Pustekkom Diknas, Jakarta, 2005.
  4. Zainal Aqib, Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya, Penerbit Insan Cendikia, 2002.




Rabu, 19 Desember 2012

Beberapa Teori Belajar


Belajar adalah suatu aktifitas atau kegiatan dimana terdapat sebuah proses dan tahapan dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan kegiatan tersebut. Belajar adalah merupakan proses perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku atau pemikiran sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar adalah dampak darui adanya interaksi antara rangsangan dan tanggapan. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Berikut adalah beberapa tokoh tentang teori belajar:

Edward L Thorndike
Lahir di Williamsburg, Massachusetts, U.S. pada tanggal 31 Agustus 1874 dan wafat pada tanggal 9 Agustus 1949 di Montrose, New York.
Edward Lee Thorndike adalah ahli psikologi yang melakukan penelitian pada perilaku hewan dan proses pembelajaran yang saat ini dikenal sebagai Theoruy of Connectionism, yang menyatakan bahwa perilaku respond terhadap stimulus tertentu dibentuk oleh suatu rangkaian kegiatan coba-coba (Trial and error) yang mempengaruhi neural connections antara stimulus dan respond yang paling diinginkan.
Ia memahami bahwa perubahan adptif pada perilaku binatang dapat dianalogikan pada pembelajaran pada manusia dan mengusulkan rangkaian perilaku tersebut (connection) bisa diramalkan oleh aplikasi dua hukum, yaitu:
1. Law of Effect (Hukum Efek)
Hukum efek menyatakan bahwa tingkah laku respon yang paling dekat diikuti oleh hasil yang memuaskan dapat dipastikan untuk menjadi pola yang mapan dan menjadi teladan. Respon yang sama akan diberikan apabila stimulus yang sama diberikan lagi.
2. Law of Exercise (Hukum Latihan)
Hukum latihan menyatakan bahwa perilaku akan semakin kokoh apabila hubungan stimulus-respon sering dilakukan.
Thorndike juga menyatakan bahwa reward akan menguatkan perilaku hubungan stimulus-respon yang diharapkan (benar) dan punishment akan melemahkan perilaku hubungan stimulus-respond yang tidak diharapkan (salah).
(Sumber : Britannica Ultimate Reference Suite 2007)

B. F. Skinner
Lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, U.S.
Wafat pada 18 Agustus 1990, Cambridge, Massachusetts
(Sumber : Britannica Ultimate Reference Suite 2007)
Teori belajar Skinner didasarkan atas gagasan bahwa belajar adalah fungsi perubahan perilaku individu secara jelas. Perubahan perilaku tersebut diperoleh sebagai hasil respon individu terhadap kejadian (stimulus) dari lingkungan. Penelitian yang dilakukan Skinner dipengaruhi oleh percobaan Pavlov dan ide-ide John Watson (bapak behaviorisme). Salah satu hasil penelitiannya yang terkenal adalah kotak Skinner (Skinner’s Box). Ketertarikan Skinner terhadap perilaku individu terletak pada stimulus-respon (SR) yang dihasilkan.
Penguatan merupakan unsur terpenting dari teori SR Skinner. Penguatan stimulus diberikan berulang-ulang agar dapat memperkuat respon yang dikehendaki. Sehingga perilaku individu dikontrol oleh penguatan stimulus yang mengikutinya. Ukuran perilaku individu yang terpenting adalah tingkatan atau kecepatan responnya. Perilaku individu yang diamati Skinner agak berbeda dengan perilaku yang diamati dalam teori behaviorisme sebelumnya (Pavlov, Thorndike, Hull). Dalam teori behaviorisme Skinner, dikenal istilah responden dan operan. Responden merupakan respon-respon individu yang secara otomatis diperoleh melalui stimulus yang sudah dikenal dan relatif tetap. Sedangkan dalam pengkondisian operan, stimulus awal tidak selalu dapat diketahui, individu hanya sekedar memunculkan respon-respon yang dikontrol oleh penguatan stimulus yang mengikutinya. Menurut Skinner, perilaku operan lebih berperan dalam kehidupan manusia disbanding perilaku responden. Hal inilah yang mendasari teori Skinner tenang pengkondisian operan (operant conditioning).

Robert Gagne
Teori belajar yang disebut pula teori perkembangan mental berisi uraian tentang apa yang terjadi dan apa yang diharapkan terjadi terhadap mental peserta didik (Ruseffendi, 1988). Dalam perkembangannya, ”belajar” memiliki definisi tersendiri. Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan (Sudjana, 1991: 5). Burton (dalam Knowles, 1986:5) menyatakan ”learning is change in the individual, due to the interaction of that individual, and his environment, which fills a need and makes him more capable of dealing adequately with his environment”. Ini menyiratkan bahwa belajar adalah suatu perubahan secara individu, berkaitan dengan interaksi antara individu dengan lingkungannya, dalam pemenuhan kebutuhannya dan membuat mereka lebih cakap dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Disisi lain, Gagne menyatakan bahwa ”Learning is a change in human disposition or capability, which can be retained, and which is not simply ascribable to the process of growth”. Ini berarti bahwa belajar adalah perubahan dalam pembawaan atau kesanggupan manusia, yang dapat dikendalikan, dan tidak dapat disederhanakan menjadi suatu proses perkembangan.
Lebih lanjut, melalui penelitiannya Gagne (dalam Bell-Gredler, 1986:116) mengidentifikasi tiga prinsip yang memberikan kontribusi terhadap kesuksesan pengajaran. Ketiga prinsip tersebut diantaranya: (1) Menyediakan pengajaran dalam sekelompok komponen tugas yang membangun kearah tugas akhir; (2) memastikan bahwa setiap komponen tugas merupakan bagian yang dikuasai; dan (3) rangkaian komponen tugas untuk menjamin transfer optimal untuk tugas akhir.

William Brownell
William Artur Brownell dilahirkan tanggal 19 mei 1895 dan wafat pada tanggal 24 mei 1977, yang mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan. Brownell (1935) “…he characterized his point of view as the “meaning theory.” In developing it, he laid the foundation for the emergence of the “new mathematics.” He showed that understanding, not sheer repetition, is the basis for children’s mathematical learning…” pada penelitiannya mengenai pembelajaran anak khususnya pada aritmetika mengemukakan belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian atau yang dikenal dengan Meaning Theory (teori bermakna) dan dalam perkembangannya ia meletakkan pondasi munculnya matematika baru. Jika dilihat dari teorinya ini sesuai dengan teori belajar-mengajar Gestalt yang muncul pada pertengahan tahun 1930. Dimana menurut teori Gestalt, latihan hafalan atau yang dikenal dengan sebutan drill adalah sangat penting dalam kegiatan pengajaran. Cara drill diberikan setelah tertanam pengertian.
Meaning Theory yang diperkenalkan oleh Brownel merupakan alternatif dari Drill Theory (teori latihan hafal/ulangan). Menurut Brownell dalam belajar orang membutuhkan makna, bukan hanya sekedar respon otomatis yang banyak. Maka dengan demikian teori drill dalam pembelajaran matematika yang dikembangkan atas dasar teori asosiasi atau teori stimulus respon, menurutnya terkesan bahwa proses pembelajaran matematika khususnya aritmetika dipahami semata-mata hanya sebagai kemahiran.

Jean piaget
Lahir pada tanggal 9 Agustus 1896 di Neuchâtel, Switzerland
Meninggal pada 16 September 1980 di Geneva
(Sumber : Britannica Ultimate Reference Suite 2007)
Jean Piaget adalah anak tertua dari pasangan suami istri Arthur Piaget, seorang profesor Kesusastraan abad pertengahan dan Rebecca Jackson, pada usia 11 tahun di Neuchâtel Latin high school, dia menulis suatu ulasan tentang albino sparrow, Piaget telah diberi gelar sebagai seorang interaktionis dan juga konstruktivis.
Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif menjadi empat tahap, yaitu sebagai berikut:
a) Periode Sensorimotor (0-2 tahun)
b) Tahapan Praoperasional (2-7 tahun)
c) Tahapan Operasional Konkrit (7-11 tahun)
d) Tahapan Operasional Formal (11 tahun ke atas)
Dalam bukunya yang berjudul To Understand Is to Invent, Piaget mengatakan bahwa prinsip dasar dari metode aktif dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk memahami harus menemukan atau merekonstruksi melalui penemuan kembali dan kondisi seperti ini harus diikuti jika menginginkan seseorang dibentuk guna mampu memproduksi dan mengembangkan kreativitas dan bukan hanya sekedar mengulangi. Dalam pembelajaran aktif, guru harus memiliki keyakinan bahawa siswa akan mampu belajar sendiri.

Jerome Bruner
Lahir pada tanggal 1 Oktober 1915 di New York, N.Y., U.S.
Tulisan-tulisan Bruner membantu untuk menggambarkan konsep milik Piaget tentang level perkembangan kognitif di dalam kelas. Bukunya yang berjudul The Process of Education(1960) adalah buku miliknya yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Buku tersebut berisi tentang studi dari reformasi kurikulum. Pada bukunya tersebut dia menerangkan bahwa setiap subjek bisa dipikirkan pada setiap anak pada setiap level perkembangan, jika subjek tersebut disampaikan secara tepat. Menurut bruner setiap anak memiliki kekhawatiran dan ketertarikan yang alami yang mampu menjadikan mereka berkompeten di berbagai tugas. Jika tugas disampaikan terlalu sulit maka akan mengakibatkan mereka menjdai bosan. Seorang guru, menurut Bruner, harus menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang tepat dengan level perkembangan kognitif siswa. Bruner juga mempelajari persepsi anak, dimana dia menyimpulkan bahwa nilai individu masing-masing anak secara signifikan mempengaruhi persepsi mereka.
(Sumber : Britannica Ultimate Reference Suite 2007)

Zoltan Dienes
Dienes membagi 6 tahapan dalam mempelajari matematika
Tahapan I
Sebagian besar orang ketika dihadapkan pada situasi dimana mereka tidak yakin bagaimana mengatasinya, mereka akan melakukan suatu aktifitas “trial and error”.
Tahapan II
Setelah beberapa kali percobaan, biasanya terjadi keseragaman dalam sebuah situasi, yang bisa dirumuskan sebagai suatu aturan permainan(Rules of a game)
Tahapan III
Suatu kali ketika kita mendapatkan anak-anak memainkan sejumlah permainan matematika, maka tiba saatnya ketika permainan-permainan tersebut bisa didiskusikan dan dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.
Tahapan IV
Akan tiba saatnya ketika siswa telah mengindentifikasi muatan abstrak dari sejumlah permainan dan praktis membawa beberapa gambaran dari inti dan maksud dari aktifitas-aktifitas yang beragam tersebut.
Tahapan V
Pada level ini sudah saatnya untuk mempelajari representasi atau memetakan dan menyelidiiki beberapa sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh semua permainan tersebut.
Tahapan VI
Tahapan uraian dari simbolisasi bisa didapatkan dengan sangat panjang dan terkadang berlebihan. Pada tahapan ini siswa dapat melakukan aktifitas deduksi.


REFERENSI
Bruner, Jerome S(eymour). (2009). Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica.
Thorndike, Edward L.. (2009). Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica.
Skinner, B.F. . (2009). Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica.
Piaget, Jean. (2009). Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica.
Bruner, Jerome S(eymour). (2009). Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopædia Britannica.
Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. MIPA UPI. Bandung.
Subarinah, Sri (2006). Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Dikti, Jakarta.
William Arthur Brownell, Education: Berkeley , University of California: In Memoriam, September 1978
Crain, William. (2007). Teori Perkembangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hergenhahn B.R & Olson M.H,. (2008) Theories of Learning (Edisi ketujuh). Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Hill, F. Winfred. (2009). Theories of Learning. Bandung: Nusamedia.
Hudojo H,. (1988). Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud
Skemp, R.R. (1971). The Psychology of learning mathematics. Suffulk: Ricard Clay Ltd.
Uno H.B,. (2008). Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Selasa, 18 Desember 2012

Macam - Macam Pendekatann Pembalajaran


1.Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)



Contextual Teaching and Learning atau sering disingkat dengan CTL adalah pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang dibelajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa mengkontruksi pengetahuannya sendiri kemudian menghubungkannya dengan kehidupan keseharian mereka. Proses pembelajarannya berlangsung alamiah dlm bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Komponen utama pembelajaran Contekxtual Teaching and Learning adalah:

1.Konstruktivisme.
2.Bertanya.
3.Menemukan atau inquiry.
4.Masyarakat belajar.
5.Permodelan.
6.Penilaian authentic.

Ciri-ciri kelas yang menggunakan pendekatan CTL, salah satunya adalah adanya pemajangan hasil kinerja siswa yang terpampang di dinding kelas. Kunci dan strategi membelajarkan CTL adalah:

1.Relating, yaitu belajar dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata.
2.Experiencing, belajar ditekankan kepada penggalian, penemuan, dan penciptaan.
3.Applying, belajar bilamana dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
4.Cooperating, belajar melalui komunikasi inter atau antar personal.
5.Transfering, belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi konteks baru.

1.Pendekatan Konstruktivisme

Sebagai salah satu falsafah pembelajaran, konstruktivisme ini boleh dikesan balik sekurang-kurangnya kepada abad ke-18 dengan hasil kerja oleh seorang ahli falsafah Neopolitan yang bernama Giambattista Vico yang menyatakan bahwa manusia hanya akan memahami dengan jelas apa yang mereka pelajari atau alami sekiranya mereka membina sendiri makna bagi kegiatan yang mereka lakukan. Banyak lagi ahli-ahli falsafah, terutamanya ahli psikologi yang menerokai falsafah beliau, tetapi orang pertama yang bertanggungjawab memberi nyawa kepada fahaman ini adalah Jean Piaget dan John Dewey. Fahaman ini telah dibaham oleh fahaman yang berteraskan kepada tingkah laku buat sekian lama kerana dunia pada itu, malah hingga ke hari untuk disetengah negeri lebih memihak kepada fahaman ahli psikologi tingkah laku karena hasil kajian mereka ini bersifat zahir dan boleh dibuktikan berbanding hasil yang dibawa ke hadapan oleh ahli psikologi perkembangan yang banyak menggunakan unsur-unsur abstrak dan logis sahaja. Namun kini, dunia sudah mula menerima ideologi berteraskan perkembangan sebagai satu ideologi bagi menampung kegagalan ideologi berteraskan tingkah laku.

Konstruktivisme ini merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan dibina dalam manusia. Mengikut fahaman konstruktivime, ilmu pemgetahuan tidak boleh dipindahkan atau diturunkan daripada seorang guru kepada seorang pelajar. Penurunan ilmu ini malah bukanlah bersifat genetik dimana anak seorang guru tidak semestinya mempunyai pengetahuan ibunya. Ahli psikologi konstruktivisme percaya bahwa pembelajaran adalah hasil daripada usaha pelajar itu sendiri. Guru tidak boleh belajar untuk belajar. Pelajar hanya akan mengalami pembelajaran apabila mereka membina pemahaman sendiri. Maka pembelajaran adalah satu proses pembinaan makna oleh individu.

Di dalam melaksanakan pengajaran menggunakan pendekatan konstruktivisme ini, aktifitas pembelajaran yang dialami oleh pelajar hendaklah satu aktifitas pembelajaran yang menggalakkan pelajar mencari makna kepada apa yang mereka pelajari. Untuk mencari makna tersebut, pelajar perlu memahami sesuatu konsep secara keseluruhan maupun secara bagian-bagian kecil. Ini adalah kerana otak kita berfikir secara serentak, yaitu secara keseluruhan dan secara bagian kecil. Sesuai dengan keinginan kita untuk melihat pelajar kita menggunakan fikiran mereka untuk menjelaskan suatu makna, maka wajarlah bagi seorang guru untuk memberi tumpuan kepada proses pemahaman yang dialami oleh pelajar. Guru perlu mengetahui bagaimana pelajar mereka berfikir. Guru perlu ambil tahu mengapa pelajar mereka membuat suatu anggapan. Guru perlu menyelami segala apa yang berlaku di dalam diri pelajar untuk mengetahui sejauh mana pelajar itu mengalami pembelajaran. Ini akan menjadikan pengajaran guru tersebut menjadi satu pengajaran yang berpandukan maklum balas yang diperoleh daripada pelajarnya.

Di dalam usaha untuk menggalakkan pelajar menggunakan pemikiran asas tinggi, pelajar perlu dilibatkan dengan aktifitas-aktifitas yang mendorong mereka untuk membuat analisa, menginterpretasi, dan membuat ramalan. Usaha ini sudah diperkenalkan kepada guru-guru sains yang baru meninggalkan perguruan masing-masing, di mana telah dibedakan kepada konstruktivisme lima fase. Selain dari itu juga, guru perlu menggunakan soal-soal untuk pencapaian (open-ended) di mana suatu persoalan akan membawa kepada persoalan yang lain. Soal ini akan membangkitkan proses belajar berfikir mencari makna suatu ungkapan. Untuk itu, seharusnya pelajar digalakkan untuk belajar melalui perbincangan kumpulan karena dengan latar balakang pelajar yang berlainan dan kecenderungan pelajar yang berbeda, sudah tentu hanya akan memberi lebih perencah kepada seseorang individu.

Implikasi pendekatan konstruktivisme ini terhadap karir keguruan boleh dilihat dengan jelas melalui peranan baru yang bakal disandang oleh guru matematik dalam mengharungi arus peredaran zaman. Oleh karena unsur yang paling penting dalam pendekatan ini adalah pelajar diberi peluang untuk membina makna dengan sendiri, maka peranan guru adalah untuk mencapai perkara tersebut sebagai akhir pengajaran mereka terhadap suatu topik. Di antara peranan guru tersebut adalah menyediakan situasi yang menggalakkan aktifitas matematik. Situasi di sini termasuk dengan penggunaan bahan-bahan pengajaran konkrit dan juga setara konkrit. Tidak dinafikan bahan-bahan abstrak juga akan digunakan apabila pelajar sudah mempunyai tanggapan mental yang kukuh berkenaan dengan konsep. Untuk melakukan ini, guru hendaklah menggunakan pengetahuan sedia ada pelajar sebagai salah satu langkah awal untuk menyediakan mental pelajar bahwa apa yang mereka pelajari adalah berguna dan saling terkait di antara satu sama lain. Di samping itu juga, guru perlu menyediakan berbagai wacana untuk mewakili suatu konsep.

Di samping itu, guru perlu melihat perilaku pelajar sebagai satu hasil pemikiran. Walaupun pelajar telah membina satu konsep yang goyah, namun hanya menunjukkan hasil pemikiran mereka. Hanya merupakan pemahaman pelajar pada masa tersebut. Justru itu, guru perlulah memberi peluang kepada pelajar untuk memperbaiki makna yang telah mereka capai dengan soal-soal yang mencapai, atau dengan menyediakan bahan-bahan konkrit yang lebih berguna dan bermakna dalam menyampaikan suatu konsep. Guru perlu memberi peluang sepenuhnya untuk belajar ini berbincang. Guru perlu sadar bahwa pembelajaran yang berkesan berlaku semasa berlakunya konflik, kekeliruan, kekaguman, dan semasa interaksi. Pengajaran yang mengambil masa yang panjang juga akan memberi peluang kepada pelajar untuk menghasilkan suatu pembelajaran yang berguna dan berkesan. Strategi-strategi ini menjurus kepada pengajaran untuk kefahaman. Maksud pengajaran untuk kefahaman adalah seperti yang tertera di bawah ini:

1.Pengetahuan dibina oleh pelajar sendiri. Hanya tidak boleh dipindahkan dari seorang guru kepada seorang pelajar ibarat menuang pengetahuan ke dalam tin kosong yang terdapat di kepala pelajar.
2.Pengetahuan adalah berangkai-rangkai dan dibina daripada ide yang mantap. Ide mantap yang terdahulu sama ada yang diperoleh di luar atau di dalam kelas akan menjadi pengetahuan sedia ada yang perlu guru terapkan di dalam aktifitas seterusnya agar pelajar boleh membuat hubungan kaitan pengetahuan sedia ada mereka untuk mencapai suatu hubungan kaitan yang baru ataupaun suatu hubungan kaitan yang lebih mantap.
3.Pengetahuan sedia ada pelajar adalah sangat berguna. Hanya sangat mempengaruhi bagaimana pelajar mengintegrasikan pengetahuan baru mereka.
4.Penstrukturan semula pengetahuan dan pengubahan kesesuaian konsep adalah penting.
5.Pembelajaran dibina melalui interaksi sosial.
6.Pembelajaran dibina melalui penglibatan dalam tugas-tugas.
7.Pengurusan pembelajaran menjadi tanggung jawab pelajar.

1.Pendekatan Deduktif dan Induktif

1.Pendekatan deduktif

Ditraktifkan sebagai suatu pendekatan mengajar yang bermula daripada suatu atau beberapa rumus, prinsip, hukum, teorema, atau peraturan diikuti dengan aplikasinya ke atas contoh-contoh yang dikhususkan. Pendekatan ini juga digunakan untuk mendapatkan kesimpulan atau generalisasi yang baru daripada rumus, prinsip, hukum, atau teorema yang diketahui.

Kaidah deduktif berlandaskan pendekatannya merupakan kaidah mengajar yang kompleks karena ia memerlukan murid-murid memperolehi kefahaman yang komprehensif dan pengatahuan yang lengkap serta berupaya memilih rumus, prinsip, hukum, teorema, atau peraturan yang telah dipelajari dengan tepat untuk diaplikasikannya dalam contoh-contoh yang khusus.

Jenis-jenis pendekatan deduktif , yaitu:

1.Untuk penyelesaian masalah

Pendekatan deduktif banyak digunakan untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, setelah murid mempelajari imbuhan ber- mereka disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan imbuhan ber-.

1.Untuk membuat generalisasi

Boleh digunakan untuk membuat generalisasi baru. Contohnya, setelah murid mempelajari rumus luas segiempat tepat, mereka dibimbing menggunakan rumus itu untuk mendapat rumus luas segitiga bersudut tegak.

1.Untuk membukti hipotesis

Boleh digunakan untuk membuat hipotesis melalui prinsip atau hukum yang telah dipelajari. Contohnya, setelah murid mempelajari teorema sudut-sudut bersebelahan atas garis lurus mereka dibimbing menggunakan teorema ini untuk membuktikan hasil tambah sudut dalam sebuah segitiga.

Prinsip-prinsip penggunaan strategi pengajaran secara deduktif :

1.Pada peringkat permulaan, masalah, atau hipotesis harus dibedakan terlebih dahulu.
2.Murid-murid harus dibimbing mengingat kembali rumus, generalisasi, prinsip, teorema, atau teori agar membolehkan mereka menyelesaikan masalah atau hipotesis yang telah dibedakan.
3.Generalisasi, prinsip, atau teori yang digunakan untuk menyelesaikan masalah atau membuktikan hipotesis haruslah diketahui serta telah difahamkan secara mendalam.
4.Penggunaan pendekatan deduktif haruslah dilaksanakan mengikuti prosedur dengan tepat.
5.Proses menyelesaikan masalah atau untuk membuktikan hipotesis tidak terhadap kepada menggunakan satu generalisasi, prinsip, rumus, hukum, atau teori yang telah dipelajari.
6.Guru sendiri tidak perlu menunjukkan cara menyelesaikan masalah atau menguraikan cara membuktikan hipotesis, tetapi membimbing murid aktifitas tanya jawab sehingga mereka menjalankan aktifitas penyelesaian masalah sendiri.

1.Pendekatan induktif

Pendekatan induktif melibatkan aktifitas mengumpulkan dan menafsirkan maklumat-maklumat, kemudian membuat generalisasi atau kesimpulannya. Pada permulaan pengajaran, guru akan memberikan beberapa contoh yang khusus tetapi mengandungi suatu prinsip yang sama. Berdasarkan pada contoh-contoh yang diberikan, murid dibimbing memikir, mengkaji, mengenal pasti, dan menafsir maklumat yang terkandung dalam contoh-contoh khusus itu, kemudian membuat generalisasi atau kesimpulan yang berkenaan.

Kaidah induktif yang berlandaskan pendekatannya, merupakan salah satu kaidah mengajar yang sesuai digunakan dalam pengajaran berbagai-bagai mata pelajaran, khususnya matematik, sains, dan bahasa.

Jenis pendekatan induktif, yaitu:

1.Membentuk satu generalisasi daripada contoh-contoh tertentu. Misalnya, mencari sisi segitiga yang sama dari berbagai segitiga.
2.Membentuk satu prinsip daripada uji kaji tertentu. Misalnya, mendapat prinsip gravitasi daripada uji kaji benda-benda dijatuhkan dari atas ke bawah.
3.Membentuk satu hukum daripada pernyataan-pernyataan tertentu. Misalnya, mendapat hukum tata bahasa daripada membuat analisa terhadap struktur bahasa.
4.Mendapat satu teori daripada satu urutan pemikiran. Misalnya, memperhatikan tingkah laku manusia untuk mendapatkan satu teori pembelajaran.

Prinsip-prinsip penggunaan strategi pengajaran secara induktif:

1.Sebelum melakukan aktifitas pengajaran dan pembelajaran secara induktif, guru harus menyediakan contoh-contoh yang sesuai, yaitu yang boleh digunakan oleh murid membuat generalisasi. Di samping itu, soal-soal haruslah disediakan untuk membimbing murid mendapat kesimpulan yang berkenaan.
2.Guru tidak harus memberi keterangan atau menguraikan isi pelajaran yang berkaitan dengan kesimpulan. Murid-murid harus dibimbing melalui aktifitas soal jawab untuk mendapat kesimpulan diri sendiri.
3.Jenis contoh khusus yang diberikan haruslah diperbagaikan, tetapi mengandung ciri yang sama serta mudah untuk membolehkan murid mengenal pasti.
4.Contoh-contoh khusus yang dipilih haruslah sesuai dan mencukupi.
5.Setelah contoh-contoh khusus yang dikemukan oleh guru, murid-murid juga digalakkan memberi contoh-contoh yang serupa.
6.Alat bantu mengajar harus disedikan untuk membantu murid mendapatkan kesimpulan yang berkenaan.
7.Kaidah ini haruslah mengikut urutan yang tepat, yaitu daripada contoh-contoh spesifik kepada umum.

1.Pendekatan Konsep dan Proses

Pendekatan konsep

Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah concept (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yana dinamakan konsep.

Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah konsep, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti: bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi atau batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya: iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif.

1.Pendekatan proses

Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.

Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat (STM)

Hasil penelitian dari National Science Teacher Assocation (NSTA) (Poedjiadi (2000) dalam (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/)) menunjukkan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek: kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapai masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari-hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah-langkah ilmiah.

Semangat untuk Belajar dan Terus Berdoa

Semangat untuk Belajar dan Terus Berdoa